Pernahkah Anda merasa doa Anda tak kunjung dijawab, janji Tuhan terasa jauh, atau penantian begitu berat hingga menguras seluruh energi Anda? Ps. Ricky Kurniawan membuka khotbah minggu ini dengan sebuah hook yang sangat nyata bahwa: pekerjaan menanti adalah pekerjaan yang tidak menguras tenaga, tetapi sangat menguras emosi.
Saat kita menunggu pekerjaan, kesembuhan, atau terobosan finansial, kita sering tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Ketidakpastian inilah yang menguji kesabaran. Ketika kesabaran habis, yang muncul adalah kejengkelan, kesal, bahkan—yang paling berbahaya—mulai timbul keraguan yang menjauhkan kita dari Tuhan.
Namun, bagi setiap anak Tuhan, penantian bukanlah kesia-siaan. Ini adalah masa pemrosesan yang disertai janji ilahi. Tuhan berjanji:
“Orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri”
—Mazmur 37:9B
Ketika kita sabar menanti, berkat Tuhan akan turun. Ketika kita tidak sabar, justru ketidaksabaran itu yang menjadi penghalang untuk menerima berkat.
Kita dapat belajar dari dua tokoh Alkitab yang kontras:
- Yusuf: Penantian yang Membawa Mahkota.
Yusuf menerima janji besar melalui mimpi, namun yang ia terima justru sebaliknya: dibenci, dijual sebagai budak, difitnah, dan dipenjara. Janji itu baru terwujud bertahun-tahun kemudian, tetapi karena ia sabar menanti, Yusuf diangkat menjadi orang kedua setelah raja Mesir dan menyelamatkan seluruh keluarganya. - Saul: Ketidaksabaran yang Meruntuhkan Kerajaan.
Raja Saul tidak sabar menunggu Nabi Samuel selama tujuh hari di Gilgal. Karena takut rakyatnya lari, ia memimpin persembahan korban bakaran yang seharusnya hanya dilakukan oleh Imam. Akibatnya? Samuel berkata, “Kerajaanmu tidak akan kokoh”, karena ketidaksabarannya.
Ketidaksabaran menghalangi berkat; sebaliknya kesabaran membawa kita pada kepenuhan janji Tuhan. Lantas, bagaimana kita harus hidup dalam masa penantian ini? Ps. Ricky Kurniawan membagikan Tiga Kunci Penting yang harus kita lakukan.
Kunci 1: Mempercayakan Diri Kepada Tuhan (Totalitas Iman)
Saat menanti, hal pertama yang harus kita kuasai adalah hati dan pikiran.
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri”
—Amsal 3:5
-
Percaya dengan Segenap Hati
Ini berarti penyerahan total. KIta mengakui Yesus sebagai Tuhan yang berdaulat penuh atas hidup kita. Tidak ada ruang sedikit pun untuk keraguan. Baik dalam keadaan sulit maupun baik, hati kita harus tetap teguh mempercayai-Nya.
-
Jangan Bersandar pada Pengertian Sendiri
Akal budi boleh digunakan, tetapi ia harus diletakkan di bawah otoritas iman kepada Tuhan. Kita harus selalu bertanya kepada Tuhan sebelum mengambil keputusan. Berikut contohnya:
- Anak kecil dengan 5 roti dan 2 ikan. Secara logika, makanan itu hanya cukup untuk dirinya. Tetapi karena ia menyerahkannya kepada Tuhan, mukjizat terjadi dan 5.000 orang makan sampai kenyang.
Baca juga:
Kecil Tapi Berhasil, Sebuah Pesan Dari Kisah Yesus Memberi Makan 5000 orang
- Yosua dan Tembok Yerikho. Secara akal budi, mengitari tembok tujuh hari tidak akan meruntuhkannya, tetapi karena Yosua menuruti perintah Tuhan (mengandalkan iman), tembok itu runtuh pada hari ketujuh.
- Anak kecil dengan 5 roti dan 2 ikan. Secara logika, makanan itu hanya cukup untuk dirinya. Tetapi karena ia menyerahkannya kepada Tuhan, mukjizat terjadi dan 5.000 orang makan sampai kenyang.
Kunci 2: Mengatur Waktu dengan Bijaksana (Prioritas Ilahi)
Waktu adalah aset paling berharga karena ia tidak bisa dihentikan, apalagi dikembalikan. Oleh karena itu, kita harus mengelolanya dengan bijak, yaitu dengan menentukan prioritas.
Kisah Maria dan Martha menjadi ilustrasi sempurna. Martha sibuk menyiapkan makanan (tidak salah), sementara Maria memilih duduk di kaki Yesus mendengarkan pengajaran-Nya. Prioritas Maria adalah yang terbaik, yaitu mendengarkan Tuhan.
Bekerja keras selama 6 hari (Keluaran 20:9) adalah perintah Tuhan, tetapi yang menjadi masalah adalah ketika kita bekerja keras, kita lupa memprioritaskan Tuhan, terutama di hari yang sudah dikhususkan (Hari Minggu/Pelayanan).
Jadikan ini pedoman Anda:
“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”
—Matius 6:33
Ketika kita memprioritaskan Tuhan dan melakukan kebenaran-Nya, bukan hanya kebutuhan jasmani yang dipenuhi, tetapi Tuhan juga menyediakan “bonus-bonus” yang tidak pernah terpikirkan oleh mata atau telinga kita (1 Korintus 2:5).
Kunci 3: Miliki Penguasaan Diri (Pikiran dan Perkataan)
“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya melebih orang yang merebut kota”
—Amsal 16:32
Tanpa penguasaan diri, tindakan kita menjadi tak terkontrol, yang akan mengakibatkan kerugian dan kegagalan—seperti kisah pemuda di sebuah bengkel besi yang karena marah, melempar besi panas yang akhirnya membakar 30% bengkelnya.
Penguasaan diri membuat kita mampu berpikir matang, bersikap tenang, dan bertindak hati-hati. Kita perlu menguasai diri dalam dua area utama:
- Penguasaan Diri dalam Pikiran:
Segala tindakan dan perkataan kita adalah buat dari pikiran. Kuasailah pikiran dengan memikirkan hal-hal yang benar, mulia, adil, suci, dan manis (Filipi 4:8) - Penguasaan Diri dalam Perkataan:
“Siapa yang mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat…”—1 Petrus 3:10
Berpikirlah dahulu, baru berkata. Perkataan yang tidak terkontrol dapat menyakitkan hati orang lain, dan meskipun kita meminta maaf, goresan itu akan tetap ada, seperti goresan pensil di kertas A4 yang tak bisa dihapus sepenuhnya.
Kesimpulan
Ketidaksabaran adalah musuh terbesar penantian. Berkat Tuhan sudah tersedia, tetapi hanya orang yang sabar menanti yang akan menerimanya. Mari kita jadikan masa penantian ini sebagai kesemaptan untuk Percaya Total kepada Tuhan, Mengatur Waktu dengan Bijaksana (Prioritas Tuhan), dan Memiliki Penguasaan Diri dalam pikiran dan perkataan.
Tuhan begitu dahsyat, dan waktu Tuhan tidak pernah terlambat.
